Salah seorang dosen saya di kampus, mengubah (sekehendak hati/semau gue) jadwal kuliah yang diampunya. Jadi hari sabtu. Apa yang istimewa dengan hal ini?. Bagi anda atau teman lain yang mengambil mata kuliah ini, mungkin biasa saja. Tapi bagi saya jadi “sedikit” istimewa. Karena apa?. Jelas, hari sabtu adalah hari libur kampus. Hari untuk bersenang-senang, melepas penat setelah seminggu kuliah dan diburu tugas. Ya, walaupun pindahan kuliah cuma satu jam saja (jam 7 sampai 8), tapi hari sabtu itunya yang jadi masalah. Saya jadi tidak bisa mudik, padahal jumat tanggal merah. Atau saya jadi harus bangun pagi lagi pas hari sabtu, padahal setidaknya jika tak ada pindahan ini, saya bisa saja memanjakan diri dengan bangun jam 9 atau bahkan 10.
Yang lebih menyebalkan lagi, prosentase kehadiran minimal di kelas diubahnya jadi minimal jadi 90 %. Atau jika di translate jadi hitungan, jadi maksimal 4 kali tidak masuk. Jika lebih dari itu langsung dapat E. Memuakkan?. Sangatlah. Padahal seharusnya (sesuai ketentuan) seorang mahasiswa minimal kehadiran hanya 70% ( 8 kali pertemuan). Saya sudah absen 3 kali. Sehingga saya hanya tinggal punya jatah 1 kali absen.
Huh, anehnya lagi si dosen ini mengambil keputusan (sangat) krusial ini sekehendak hati, tanpa mau menghiraukan masukan mahasiswa. Alasannya sangat aneh juga, karena di saat yang sama dengan jadwal kuliah terdahulu di harus mengajar praktikum mata kuliah lain juga. Aneh kan? dulu pas pembagian jadwal bagaimana? Kok jadi ribet begini. Kalau sudah tahu akan bentrok, kok ya masih ngoyo ngajar 2 mata kuliah bersamaan sekaligus. Hiks….ditambah lagi, si dosen ini sering ngadain tes mendadak. Mampus ga?. Coba pas itu saya pas tidak masuk/absen. Saya harus kehilangan nilai dengan sia-sia donk. Wah, memang berat…..akhirnya, saya hanya bisa berucap:
Pokoknya saya sangat tidak rela…tidak sama sekali………Dasar dosen yang aneh.