Salah seorang dosen saya pernah melontarkan beberapa buah pertanyaan dalam sesi tanya jawab sebuah diskusi. Dan ternyata hampir seluruh peserta (yang kebanyakan mahasiswa) terperangah dibuatnya. Ya setidaknya tidak menyangka akan diberi pertanyaan seperti itu, dan harus menjawab pula dalam hitungan detik. Apa pertanyaannya?. Saya sebutkan beberapa contoh, Tahun 2009 anda sudah lulus belum?, Tahun 2017 berapa gaji anda? Anda sudah punya anak berapa tahun 2015 mendatang?. Negara mana saja yang sudah anda jelajahi saat usia anda 33 tahun?. Atau anda pilih BPN atau Adaro untuk tempat meraup rupiah?. Wah, saya sendiri kaget diberi pertanyaan seperti itu. Ya, kadang kita memang tidak mau ambil pusing untuk memasang target hidup kita. Atau dengan kata lain, kita merasa kita cukuplah punya planning untuk satu tahun mendatang, tidak usah jauh-jauh. Tidak usah yang terlalu berat dulu. Yang ringan saja, dan tak usah mendalam apalagi terlampau detil. Saya juga melakoni yang seperti itu saat ini. Bahkan tak usah panjang-panjang sampai satu tahun, cukuplah satu semester, atau bahkan satu bulan. Setelah sedikit mau berangan-angan, sepertinya materi dari dosen saya sangat menarik untuk kita renungkan. Sepertinya kita memang dalam beberapa hal harus membuat planning lebih mendetail dan mendalam. Contohnya, saya akan lulus tahun berapa. Dalam pandangan saya, itu seharusnya memang harus dipikirkan secara masak. Ya bukan semata karena kita memang tercatu untuk lulus 4 sampai 5 tahun. Tapi mungkin bisa dipikirkan, atau lebih tepatnya mungkin dipertimbangkan misal tentang masalah keuangan orang tua yang kita bebani. Atau mungkin tentang masalah tingkat kestresan yang bisa saja muncul ketika kita harus kuliah lebih dari 5 tahun, dan masih banyak hal lainnya. Dan mungkin juga hal-hal kecil akan juga layak dipertimbangkan.
Sekarang pertanyaannya adalah, sudahkan kita punya target hidup seperti pengantar saya di atas?. Semoga deskripsi singkat ini membuka pikiran kita, bahwa kita kadang terlalu asyik memanjakan diri kita dalam kesenangan yang kita puja, sampai-sampai hakikat kita hidup untuk apa, tak pernah terlintas di benak. Mengherankan bukan?. Kita yang katanya punya semua yang serba paling di banding makhluk ciptaan Tuhan yang lain, masih kadang tidak memanfaatkan itu dalam atau dengan jalannya yang benar.
Target hidup ternyata sebuah keharusan. Jadi mau jadi apa anda. Mau keja dimana anda. Berapa gaji pertama anda. Anda mau nikah tahun berapa. Itu sekelumit hal-hal yang sepertinya sudah mulai harus dipikirkan lebih mendalam sejak saat ini. Bukan karena ketakutan akan kemiskinan, tidak melulu ketakutan akan tidak punya kerja, tapi lebih pada karena kita memang punya akal, jiwa, otak untuk bisa memikirkan itu, untuk kemajuan kita masing-masing, untuk masa depan kita masing-masing. Dan yang terpenting mungkin, pada rasa tanggung jawab kita, pada Tuhan yang telah mau menempatkan kita di bumi. Untuk orang tua yang membiayai kita selama ini, dan terakhir tapi paling esensial, untuk kita sendiri, karena kita adalah pemimpin untuk diri kita masing-masing. Pemimpin yang bertanggung jawab penuh atas keberhasilan menjalankan titah Tuhan dan mengejawantahkannya dalam kehidupan kita selama “mampir minum” di bumi ini. Jadi, sudahkan anda mempunyai terget masa depan?. Setidaknya menjawab pertanyaan ini, anda akan jadi apa 10 tahun mendatang? [Hanya anda yang berhak dan bertanggung jawab atas jawaban pertanyaan ini.]