Raungan motor Krisna perlahan terdengar memecah keheningan kompleks perumahan tempat tinggalku. Krisna , seorang pemuda yang seringkali terlihat dolan ke rumah Permata, tetangga depan rumahku. Kali ini sepertinya datang agak malam, tak seperti biasanya yang selalu datang tak lebih dari jam 8, kali ini jam 9 malam. Kutengok dia dari jendela kamarku yang menghadap persis ke rumah Permata. Aku memang seringkali melihat Krisna dan Permata pacaran. Kadang tertawa melihat tingkah laku dua kekasih itu. Pacaran itu menyenangkan, pikirku setelah melihat mereka berduaan. Kadang kulihat hanya penuh tertawa dan senyum bahagia saat mereka berbagi kasih. Sepertinya pacaran memang selalu buat orang jadi bahagia. Tapi entahlah, aku sekedar menerka.
Malam ini agak lain. Tak kulihat Krisna datang dengan mawar di tangannya seperti yang lalu-lalu, bahkan jaket biru yang biasa dipakainya pun tidak, dia cuma pakai kaos hitam ketat. Kudengar diucapkannya salam. Permata keluar rumah, terlihat cantik dengan balutan baju longdress merah muda. Kemudian dua kekasih itu pun duduk di teras ruman Permata yang cukup lebar. Krisna tak segera berucap. Kulihat dia hanya memandang sekeliling. Permata pun begitu. Aneh, tak seperti biasanya. Lima menit berlalu, tak kunjung ada kata yang terucap dari dua anak manusia ini. Ada apa?. Aku juga heran. Setelah sepuluh menit yang membosankan tanpa kata berlalu, Krisna mendadak bangkit dan pergi. Naik motor dan melaju cepat meninggalkan Permata yang masih juga duduk termangu. Dalam hitungan detik Krisna sudah tak nampak dari pandangan. Dan sekejap pula kulihat bulir-bulir airmata mulai menetes. Permata terisak. Ada apa. Aku juga tak tahu. Baru pertama kulihat mereka seperti ini. Tak tahu harus apa, kututup jendela dan menyalakan radio, mencoba tidur melepas penat hari ini.