Poligami menjadi istilah yang (sangat) marak akhir-akhir ini. Aa Gym telah “berhasil” mempopulerkan kembali kata ini dengan prnikahan keduanya dengan seorang janda beranak 3 . Masyarakat pun spontan terhenyak melihat fenomena ini. Jelas, ada yang pro ada juga yang kontra. Yang kontra sepertinya lebih banyak. Soalnya di TV (infotainment terutama) artis-artis berlomba memberikan argument(s) mereka tentang ppoligami. Sejauh ini saya mengikuti, ya emang kebanyakan pada ga setuju. Malah katanya ribuan ibu-ibu ngirim sms ke Pak SBY supaya beliau juga turun tangan thd masalah ini. Ya, karena memang begitu banyak ibu-ibu yang “patah hati” setelah Aa Gym punya istri dua. Akhirnya, pemerintah sedang membahas lagi UU tentang Perkawinan, dengan pokok bahasan tentang pelarangan poligami.

Lepas dari dari setuju dan tidak, apakah Presiden harus “turun tangan” langsung pada masalah ini. Apa poligami bukan masalah yang terlalu “remeh-temeh” untuk ditangani seorang presiden. Apa karen presiden udah tak punya lagi gawean lain?. Bukannya masih banyak yang korupsi? Milyaran?. Bukannya masih ada “sinetron” lain?. Anggota DPR yang “buat” film ama penyanyi dangdut itu?.

Kalau saya sih, biarlah poligami diselesaikan dengan pendekatan agama saja. Aa Gym seorang muslim, dan kata beliau ada kok surat di Al-Quran yang membolehkan poligami dengan ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi. Dan kalau Aa Gym sudah “terlanjur” poligami, terus mau bagaimana lagi?.

Dalam sebuah ulasan di Jogja TV tadi malem, sang pengulas, berkelakar, poligami bolehlah buat 3 golongan saja. Pemimpin, Ulama, Seniman. Pemimpin karena sudah tradisi. Soekarno berpoligami, Hamzah Haz berpoligami. Ya jadi biasa aja. Terus kalau ulama, ya karena Insya Allah mereka dah tau ilmunya. Nah, kalau seniman?. Hehe, karena mereka pengagum estetika, terutama wanita…..

Saya mah setuju ama guyonan itu.