Topeng itu sekarang telah rusak. Dan terlihat wajah muram di dalam. Kini semua sudah telihat menantang dan menerjang. Cinta, sayang, sudah raib terbawa puing keruntuhan. Topeng sudah lebur bersama kemunafikan. Menggeliat sebuah tubuh yang termakan masa dan terlihat lapuk terbuai lidah cinta yang melambungkan asmara. Segala yang terjadi hanya kata-kata biasa, dan itu yang binasa. Yang terlintas hanya dendam yang memuncak menutup muka yang sudah terlihat nyata walau renta. Semua sudah lalu, semua kini hanya teriakan marah dan teriakan benci. Serpihan ini, terbawa angin, dan yakinlah tak akan kembali. Rasa ini, terbawa arus sungai yang membawaku ke telaga penyesalan, dan kini semua akan diam dalam sebuah kesamaan. Dalam sebuah akhir cerita tentang topeng yang selama ini menguasai manusia dan membuat hidup ini nelangsa. Topeng ku, topeng mu, kini punah di makan kebenaran sesaat. Ingat, kebenaran sesaat.