Kupu-kupu itu tak terbang lagi.
Hingar bingar membuatnya tenteram jadi manusia maya.
Hiruk pikuk maya yang memburamkan sukma.
Naluri ke-kupu-kupu-annya sudah tak mampu lagi menggoda.
Ternyata memang nyaman jadi manusia maya.

Kupu-kupu itu tak hinggap lagi di bunga.
Tak lagi sibuk mencari madu untuk nyawa.
Kebab dan oseng-oseng mercon lebih terasa berwarna di lidah.
Lebih ini, lebih itu.
Terasa nyawa jadi berlipat, jadi tiga, empat, bahkan lima.

Kupu tak tahu.
Padahal aku yang manusia sungguhan,
Ingin jadi kupu.
Yang bisa terbang ke sana ke mari.
Yang bisa hinggap di bunga-bunga indah.
Menghisap madunya,
Dan mencari bunga yang lain untuk dinikmati.

Kupu-kupu dan aku.
Beda ilmu.