Kang Janges yang lebaran tahun ini mudik lebih gasik dari tahun-tahun sebelumnya, sedang duduk sendirian menikmati hingar bingarnya suasana alun-alun Purbalingga. Alun-alun yang dulu jadi tempat kongkow-kongkow saat masih smp dan sma sudah sedemikian berubah sejak ditinggal Kang Janges menimba ilmu kuliah ke Jogja. Alun-alun yang dulu berupa empat lapangan besar, sekarang sudah dijadikan satu, dan terlihat sangat luas. Alun-alun sekarang jadi tampak ramai oleh anak-anak kecil yang maen mobil sewaan, pedagang baju lebaran, orang jualan kelapa muda, dan pedagang lainnya. Kang Janges senyum-senyum melihat perubahan kota yang jadi hometown nya selama masa kecil dulu.

Melayangkan pandang ke arah utara, di depan gerbang pendopo kabupaten, terpasang spanduk pengumuman, ternyata sebuah hajatan besar yang bakal digelar dalam waktu dekat, acaranya pemda untuk memfasilitasi para pemudik yang datang ke Purbalingga untuk berbaur dengan warga asli, acara yang diberi tema ” ENYONG KANGEN RIKA”. Wah, acara yang selama ini bener-bener ditunggu Kang Janges. Bukan melulu karena bakalan ada goyang seksi para penyanyi dangdut yang menghibur, bukan pula karena bakal ada jajan gratisan dari para penggede kabupaten, tapi karena Kang Janges pasti bakal ketemu kanca-kanca lama nya yang sekian tahun ini tak pernah ketemu. kanca-kanca sealumni sma yang dulu sempat jadi kanca sehidup sepermainan. Suprih yang suka nyuri-nyuri ngrokok di toilet pas sma, Wowor yang jadi saingan dari kelas 1 sampai 3 sma pas memperebutkan cinta Si Marni, Dahlan yang super pinter dan sekarang dah jadi orang di Jakarta, dan banyak kanca-kanca lainnya, yang walau cerita masa lalu, tapi masih mengisi hati Kang Janges. Kang Janges terseyum lagi, ucapnya dalam hati, “enyong bener-bener kangen rika, kanca-kancaku kabeh”…

enyong: aku
rika: kalian, kamu, anda
kanca: teman