Semua kembali pada Yang Maha Kuasa, temanku.

Saya mau ceritakan kejadian barusan, saat saya menjenguk suami temen kantor ibu saya, yang sedang sakit suspect kanker prostat, sekarang sudah opname hampir 1 bulan di RS Sardjito, dan menunggu keputusan dokter untuk operasi.

Tadi pagi, saat saya akan ke kampus, saya mendapat sms, dari temen ibu saya itu, “Mas Farid, tolong, belikan ketimun dan seledri, Pak xxx hipertensi nya naik, saya bingung kalo di RS mau beli ketimund dimana…bla..bla..bla…”. Saya yang sudah siap berangkat ngampus, tidak berpikir aneh-aneh, ya cuma sejenak terlintas di benak saya, “Hipertensi naik?, wah bisa ditunda nih operasinya”. Cuma itu. Dan serta merta, saya matur ke ibu kos, minta dibeliin ketimun dan seledri, karena memang sudah sangat keburu mau ke kampus, ibu kos mengiyakan. Lega hati ini, tapi juga sedikit merasa “bersalah”, karena tidak bisa langsung mengantar ke RS, karena saya ada kerjaan di kampus sampai jam 4 sore. Jadi saya sms ke temen ibu saya itu, :Bu, nyumun sewu, kulo teng RS mangke sonten, kulo wonten acara teng kampus ngantos jam 4″. Dan tidak ada reply, selesai ceritanya untuk pagi tadi.

Sore hari tadi, sekitar jam setengah 5, saya ke Sardjito. Membawa seplastik besar ketimun dan seplastik kecil seledri.

Masuk ke kamar pasien, saya sungguh terkejut, sangat terkejut, Pak xxx sedang tiduran, mukanya pucat. Saya salaman dengan temen ibu saya, dan dua orang kerabat pasien. Pak xxx yang biasanya antusias ngobrol, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ini yang bikin saya kaget, saya sudah 4 kali menjenguk Pak xxx sebelumnya, biasanya, masa jenguk dengan saya, adalah masa Pak xxx untuk berbagi cerita, ini itu, pokoknya semua hal di bahas. Saya senang-senang saja, karena saya bisa lihat raut muka Pak xx yang sedikit “melupakan” sakitnya, saya senang karena bisa jadi temen ngobrol walaupun hanya untuk 1-2 jam, tapi setidaknya menenangkan, karena ada yang menjenguk dan memberi perhatian. Maklum temen ibu saya asli Purbalingga, kota nun jauh di sana, dan hanya punya sedikit kerabat di Jogja, sehingga untuk gantian jaga di rumah sakit saja kesulitan. Itu juga, yang membuat saya, 3 sampai 4 hari sekali menjenguk ke rumah sakit.

Dan yang terjadi tadi sore, sungguh di luar bayangan saya, memang tadi pagi, temen ibu saya sms kalo Pak xxx naik tensinya, tapi saya tidak mengira separah ini, melihat Pak xxx terkulai lemah, saya jadi sangat sedih. Ada perasaan yang lain. Temen ibu saya, yang biasanya ceria, dan juga ikut ngobrol dengan saya, hanya diam, sebentar menyapa daya dan kemudain banyak diam. Setengah jam berlalu, saya juag hanya bisa diam. Suasana yang sangat lain, tidak seperti saya membesuk 5 hari yang lalu, tidak seperti keadaan sebelum-sebelumnya. Tiba-tiba, temen ibu saya, menangis, sambil teristighfar, astaghfirullah…astagfirullah….. Deg, jantung saya seakan berhenti berdetak. Saya tertunduk, sedih..sangat sedih….

Menangisnya temen ibu saya tadi, membawa saya berpikir macam-macam. Sungguh, saya langsung teringat kedua orang tua di rumah. Jujur saja, kondisi bapak ibu yang kena kencing manis dan sering drop kondisinya jika sedang tinggi tensi dan kadar gulanya, selalu jadi benih pikiran jahat di otak saya. Saya setulusnya langsung berdoa..”Ya Allah..berikan kesehatan pada kedua orang tua hamba..Ya Allah..panjangkan umur kedua orang tua hamba..Ya Allah..berikan yang terbaik untuk orang tua hamba….” Saya, semakin larut dalam beragam pikiran…..

Saya hanya bisa menundukkan muka dalam, menghela nafas…..

——————————————————————————–
Itu yang pengen saya ceritakan, sobat. Semoga kegundahan hati ini dapat sedikit terobati dengan tulisan ini.

Akhirnya, memang semua harus kembali pada Yang Maha Kuasa.
Maka ketika otak, hati, mulut, badan ini sudah tak dapat lagi berdaya upaya, sesungguhnya doa dan ibadah adalah bentuk kepasrahan paling suci pada Yang Maha Kuasa, pada Pemberi Kehidupan..karena pada-Nya memang semua nya bersumber dan suatu saat nanti pasti kembali…..