Makin bosen aja lihat Dewi Persik di infotainment. Sibuk berdebat ria dengan walikota Tangerang. Kalau DP (disingkat aja yah, males nulis nama lengkapnya), selalu menunjukkan bahwa goyang aduhai nya itu semata karena klien minta seperti itu. Sedang Pak Walikota (yang walau katanya bermuatan politis) memandang dari sudut pandang agama, ya ga bolehlah seorang wanita Islam goyang-goyang gitu, bukan pada penontonnya yang bisa naik syahwatnya, tapi ya karena DP ini kan emang kebuka sini situ pakaian nya. Setahu saya, ga boleh tuh perempuan berpakaian seperti itu dengan dalih apapun. TAPI, saya ga mau ngomongin itu, saya cuma mau mem-forward tulisan dosen saya (Pak Made Andi) di salah satu blog yang isinya tulisan-tulisan agama Hindu. Tapi tenang, tidak ada muatan agama apapun dalam tulisan di bawah ini. Enjoy, semoga menjadi sebuah pemikiran tersendiri untuk kita bersama.
————————————————————————-
Konon orang hidup perlu pengakuan. Seorang kawan saya yang baru saja dinobatkan menjadi manajer sebuah perusahaan otomotif terkemuka di Jakarta, beberapa kali mengeluh. Pasalnya, dia merasa tidak diakui sebagai manajer baru. Beberapa bawahannya yang secara usia lebih senior dan baru bulan lalu menjadi kawan ngerumpi saat makan siang, tidak memperlakukannya layaknya atasan. Bawahannya ini beberapa kali kedapatan tidak meminta tanda tangannya untuk beberapa dokumen penting, tetapi langsung mengajukannya ke atasan, melangkahi dirinya. Dia tidak terima. Diam-diam, ketidak si bawahan tidak tahu, kawan saya ini “mencuri” dokumen itu dan menandatanganinya sebelum dilihat oleh atasannya. Dia butuh pengakuan. Dia butuh tandatangannya dihargai.

Seorang kawan lain punya cerita berbeda. Ketika kecil, tumbuh di sebuah desa terpencil di Bali, dia dikelilingi orang dewasa yang semua suka minum kopi. Berdiang di dapur sambil ngobrol dan minum kopi adalah ritual pagi hari yang turun-temurun di keluarganya. Seperti layaknya keluarga Bali tradisional, keluarganya terdiri dari extended family yang mungkin mencapai 12 orang. Para lelakilah yang dilayani pagi hari dan diberi kopi untuk diminum sambil ngobrol dan berdiang. Kawan saya ini, karena masih kecil, hanya boleh minta dari kakak, bapak atau pamannya, tidak berhak atas secangkir kopi yang utuh. Ini berlangsung lama, sampai sang kakak, bapak dan paman merasa terganggu dengan kebiasaan kawan saya ini. Ibunya berinisiatif, dia dibuatkan secangkir kopi sendiri. Ketika pertama kali ibunya membuat kopi dengan memperhitungkan dirinya, dia diam-diam bangga. ”Aku sudah dihitung”, begitu katanya. Dia merasa diakui.

Ketut, seorang sahabat lain pernah bercerita tentang pengakuan. Yang lama menjadi persoalannya adalah ketika ayahnya tidak pernah setuju kebiasaannya merokok. Ketika SMA dia kucing-kucingan. Ada hukum tak tertulis di rumahnya, hanya orang tua yang boleh merokok. Seorang anak, apalagi belum mampu menghasilkan uang, No Way! Lama berselang, kawan saya ini mulai kuliah. Kini dia bebas memilih jalannya. Merokok adalah salah satu kemerdekaannya kerena jauh dari pengawasan sang ayah. Tetapi, dia tetap merasa ini kemerdekaan semu. Kemerdekaan yang dinikmati sendiri tanpa pengakuan. Kemerdekaan yang tidak sah. Sampai pada suatu saat ketika Ketut pulang kampung karena liburan kuliah, ada kejadian monumental di suatu pagi. Ayahnya dengan terang-terangan minta rokok padanya karena tidak punya rokok. Peristiwa yang tidak akan pernah dilupakannya. Peristiwa di mana dia mendapat pengakuan dari ayahnya.

Ngomong-ngomong soal pengakuan, kapan Anda mendapat pengakuan? Atau Anda masih perlu pengakuan yang belum Anda dapatkan?
————————————————————————–
Saya melihat, DP ini sepertinya pengen dapet pengakuan akan eksistensinya. Sebagai penyanyi dangdut goyang gergaji. Pengen semua masyarakat menerima dia apa adanya (ya goyangannya, ya pakaiannya yang kadang-kadang kebuka). Hem…ada komentar?. Mending ga usah deh, ga penting banget ngomentari si DP….wekekekkeke..( coba search aja “dewi persik” di google yang image/gambar, anda akan menemukan siapa Dewi Persik di dunia maya, khususnya yang dalam gambar…hehe)