Pondok-pondok bambu menyambut kita dengan ramah. Kurasakan saung dhahar ini memang tempat yang tepat untuk kembali bertemu. Jauh di dalam hati, percaya jika sore ini akan memberikan banyak segmen-segmen hidup yang tak mudah terlupa. Sore ini adalah waktu untuk pertama kali kembali bersama setelah lama bergelut dengan peluh keringat di tempat pengabdian. Kulihat senyum ceriamu yang juga membuat mulut ini tak hentinya tersenyum. Aku melihat dirimu berkelakar, dan tanpa sadar, seperti biasa, aku menjajakan humor dan candaan yang membuat kamu dan semua kawan bergelak tawa.


Mentari merah jingga saksi untuk pertama kali. Kita bertemu kembali atas nama ikatan pertemanan yang awalnya dirajut karena keterpaksaan, mungkin. Ya, kulihat memang kita disatukan oleh keadaan. Disatukan oleh keadaan untuk bersama dua bulan dalam pengabdian, dan hari ini, sore ini , kita bertemu setelah empat hari lalu meninggalkan monumen pengabdian kita pada mereka, di sana, di tempat kita bakti dan darmakan segenap ilmu dan tenaga.

Mentari jingga perlahan menurun, hendak bersembunyi pada malam. Akhirnya, kita purnakan pertemuan ini. Kurasakan ada senyum yang hendak membangun rindu dalam hati. Kulihat ada pandangan istimewa di matamu. Kudengar ada semangat-semangat persaudaraan tersirat kuat dalam canda dan tawa untuk yang paripurna.

Saat ini, kulihat kembali foto-foto kita bersama tadi. Ditemani mentari merah jingga, yang hilang ke peraduan di telan singgasana bulan malam.