Saya baru saja berbincang ringan dengan teman kos, Samuel namanya, sambil menikmati soto Pak Ngadiran di deket kos. Kali ini agak berat isu nya. Tentang tanggung jawab. Awalnya saya bercerita tentang dosen saya yang baru saja berhasil jadi juara umum lomba karya tulis di Paris. Dan beliau menang, kalau boleh berpendapat, salah satu poin penilaian sehingga bisa menang, karena tulisan tersebut memang mencerahkan, yaitu membahas Ambalat dari sisi teknis dan yuridis. Disaat banyak informasi yang beredar di masyarakat saat ini, terkait Ambalat dan isu perbatasan Indonesia dengan negara tetangga, seringkali tidak akurat bahkan tidak sedikit yang salah, tulisan dosen saya ini memberikan informasi fundamental dan mendasar sehingga setelah membaca, pembaca akan mendapati informasi terkait batas wilayah antar negara yang lebih valid dan layak baca daripada bacaan simpang siur di media massa.

Saya kemudian mengirim ucapan selamat pada dosen saya, dan beliau memberi pertanyaan balik sederhana, apakah tulisan beliau “mudah” dibuat?. Sebagai mahasiswa yang skripsinya juga membahas batas wilayah, setelah saya baca seluruh tulisan tersebut, dan seperti yang dosen saya sampaikan, tulisan tersebut sebenarnya sederhana saja. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia batas wilayah, mungkin membuat tulisan tersebut tidaklah sulit. Tapi mengapa dosen saya bisa sampai menang, jawabannya karena alasan sederhana saja, yaitu “MAU”. Dari puluhan bahkan ratusan akademisi, praktisi, ahli batas wilayah, ada berapa yang membuat tulisan dan mengirimkan ke lomba tersebut? saya kira tidak banyak. Entah apa alasannya, mungkin alasan “TIDAK MAU” menulis termasuk dalam beberapa alasan yang ada.”TIDAK MAU” bisa karena banyak alasan juga, terlalu sibuk, hadiah tak banyak dan mungkin alasan-alasan yang lain. Saya tidak akan membahas itu.🙂

Lantas apa hubungannya dengan bincang-bincang di warung soto tadi?. Di pundak seseorang yang mempunyai kemampuan lebih, sebenarnya ada tanggung jawab untuk memberikan yang lebih juga. Yang kemudian disambungkan dengan keadaan Indonesia saat ini, yang masih seperti-seperti ini saja, padahal orang pintar ada ratusan ribu, yang kuliah di luar negeri sudah tak terhitung jumlahnya.

Apa hubungannya? Sebuah pengantar singkat, seorang sarjana, dalam pemikiran sederhana, terkait tanggung jawab membangung negeri ini misalnya, tentu memiliki tanggung jawab lebih besar dari mereka yang lulusan SD. Titik pemikirannya bukan pada setiap orang punya kewajiban yang sama dan tanggung jawab yang sama, tapi pada potensi yang dimiliki seorang sarjana, terutama pola pikir, ide kreatif, dan kemampuan intelektual harusnya lebih akan maksimal jika digunakan, dibandingkan mereka yang hanya lulus SD. Ini yang mungkin belum optimal di negeri ini.

Membangun Indonesia mungkin memang tanggung jawab seluruh rakyat. Tapi ditangan orang-orang pintar di negeri inilah, kemudian tanggung jawab itu akan terpecah-pecah sesuai dengan potensi dan kemampuan yang ada. Jika seorang akademisi dan ahli saja tidak terpanggil untuk membuat banyak tulisan dan menyebarkan ilmu yang dipunyai pada orang banyak, bagaimana orang awan akan menemukan informasi yang valid dan benar?.  Jika sampai saat ini, masih banyak informasi, apapun itu, tentang apapun itu, masih simpang siur, saya khawatir, salah satu sebabnya adalah karena kurang nya “KEMAUAN” mereka-mereka yang pintar dan punya ilmu untuk berbagi dengan banyak orang. Sehingga yang tersebar kemudian adalah informasi yang belum pasti benar-tidaknya.

Sehingga sebenarnya “MAU” itu adalah sebuah tanggung jawab, dalam konteks kemauan mengembangkan potensi diri dan kemudian membagikannya kepada orang banyak entah dengan jalan apa. Tanggung jawab yang dimiliki setiap orang, dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing untuk membaktikan potensi itu pada negeri.

Saya ingat betul semangatnya temen kos saya tadi bercerita tentang artis yang diwawancarai ketika akan dilantik jadi anggota DPR. “Rakyat jangan berharap terlalu banyak pada saya, saya baru masuk DPR”, begitu dia menirukan ucapan artis tersebut. Temen saya kemudian berargumen, bukankah itu sebuah pengingkaran sebenarnya, pada “MAU” tidaknya seseorang memikul tanggung jawab. Jika memang tidak mau diharapakan oleh rakyat banyak, mengapa jadi anggota DPR?. Padahal syarat jadi anggota DPR harus dapat suara puluhan ribu saat pemilu dulu. Mungkin “MAU” karena panggilan jiwa dan tanggung jawab karena kesadaran diri belum ada di hati banyak orang di negeri ini. Sehingga masih begini-begini saja Indonesia….mungkin saja….

Pertanyaan penutup yang bisa dijawab oleh semua orang, sejauh mana sudah terpanggil untuk “MAU” membangun negeri ini?. Semoga….