Tolol

Saya sedang makan siang di sebuah warteg dekat kos kemarin siang. Seorang ibu, beserta dua anaknya, satu cewek kira-kira kelas 2 SD dan adiknya cowok mungkin berumur 1 tahun masuk ke warteg untuk membeli soto ayam. Tiba-tiba si kecil itu menangis. Ternyata memegang mangkok sayur yang masih panas. Dan ibu yang anak serta merta marah-marah “tolol banget sih, udah tau panas dipegang” dengan nada tinggi. Sang kecil menangis semakin kencang, dan saya lihat kakaknya malah menyemangati ibu nya memarahi sang adik.

Apakah anak kecil satu tahun sudah tahu kalau mangkok itu panas? jikapun sudah tahu, haruskan kata “tolol” itu muncul dari mulut sang ibu kepada anaknya? Saya bersedih, karena kemarin baru saja pulang kampung untuk melihat anak ketiga mbak saya yang opname yang baru lahir dan kena virus, namun di tempat lain kulihat (sepertinya ada) sebuah “kesia-siaan” dari orang tua pada anaknya, yang tidak saya pahami, bagaimana dia mendidik anak-anaknya dengan umpatan.

Advertisements

Wulan

Saya memanggilnya Wulan (kadang juga Neng, kadang juga Teh..ya pokoknya suka-sukalah), temen satu ruangan saya di kantor. Jujur saja, mendapat teman satu ruang di kantor membuat saya sangat excited. Bukan apa-apa, saya selama ini belum kerja dan langsung masuk kerja di instansi pemerintah. Maka senang juga dapet temen satu ruangan. Jadi tambah seneng karena ternyata Wulan baik hati, tidak sombong dan rajin menabung (haha) (ini saya tulis karena saya disuap dengan makanan….hehe).

Satu hal yang bikin orang betah tinggal di kantor adalah lingkungan kerja yang nyaman. Alhamdulillah dua minggu ini belum bosen tuh di ruangan.. Walaupun ruangan puanas poll (AC segede apa itu malah engga ada angin surga nya) tapi kepanasan itu hilang dengan melihat kekonyolan dan kegilaan temen samping meja saya itu (lebay ini…lebay..). Huakakakakaka….parah lah pokoknya….pokoknya bikin ngakak….satu kalimat yang sering terlontar seketika ” dasar gila…….” (no offense).

Satu kalimat konyol yang saya ingat ketika pertama kali ketemu dulu adalah “kita harus dekat nih, orang kita akan bersama selama 33 tahun”…huakakakakaka….seketika teringat seorang yang menasehati “become a civil servant means you’re entering an endless corridor with no turning back”.

Cukuplah,….oh iya, Wulan punya gadget banyak…ya iyalah…orang dikirimin “mas” nya dari Singapore sana….sebenarnya aku naksir sama kipas angin USB nya…..hahaha, tak minta malah engga boleh… (pelit kau Teh…)

Satu lagi, ternyata (ngakunya) Wulan itu kakak kelasnya Fitri Tropika (sama-sama dari Cimahi katanya). You know lah gayanya artis satu itu. Wulan? Ya ga jauh-jauh lah tingkah laku dan gaya ngomongnya kalo lagi gila…..huakakakkaka…

Nambah satu lagi deh, jadi kalo ada yang bertamu ke ruang kami, maka harus foto bareng sama kami berdua. Hahahaha, ide yang aneh dan konyol diantara rasa narsis, tapi sejauh ini lucu juga kalo ada yang bertamu langsung suruh foto….wekekekke (mengandalkan webcam laptop ieke..). Foto di bawah adalah bukti nya.

Where is the beautiful girl?

Apa kerjaan di kantor pada pagi hari atau sore hari? Saat bandwith melimpah dan kerjaan belum banyak? Mendengarkan lagu dan mendownload video nya tentu saja. Salah satu lagu yang asik di dengar adalah lagunya Where Are You? Natalie ft Justin Roman dalam liriknya terdapat kalimat “where is the beautiful girl?”..hahahaha……seperti sedang mencari seseorang yang mau ditaruh di hati….(ceiledotcom).

Terkenal

Ah, saya bukan artis (ya iyalah). Tapi ternyata ada juga orang (yang tidak saya kenal tentunya) yang sampai hapal nama saya. Luar biasa!!! hahaha….

Bekerja

Entah sudah berapa lama blog ini saya anggurkan. Saya diterima bekerja di instansi pemerintah. Entah apa hubungannya, kegiatan kantor dan akses internet yang sangat terbatas (baru hari ini ditempatkan) menjadikan blog ini jarang lagi ditulisi. Saya kangen….

Saya janji, dalam waktu dekat ini, akan saya kabarkan hal-hal luar biasa yang saya alami selama ini yang luput dan terlupakan.

Blogger Bangun Purbalingga

What a shame….malu sekali aku, menyatakan diri sebagai blogger, tetapi benar-benar tidak tahu kalau di tanah ku di besarkan, Purbalingga, sudah ada komunitas blogger nya. Purbalingga Blogger Community, demikian namanya, entah darimana nama berbahasa inggris itu muncul, tetapi saya harus angkat topi tinggi-tinggi kepada yang punya ide dan prakarsa membentuk komunitas ini. Walau dalam hati terdalam, sebenarnya tidak sreg dengan nama english itu. Jika Jogja punya CahAndong, Semarang punya Loenpia, Tegal punya Waroeng Tegal, Purbalingga mungkin harusnya mengambil nama daerah yang identik dengan kota ini. Tapi sudahlah….”what is in a name” kata William Shakespearce.

Teman-teman blogger tentu nya sudah tahu dan mungkin malah ikut, adanya Pesta Blogger yang diadakan annual selama tiga tahun terakhir ini. Acara ini, selain untuk ajang ketemu blogger dari penjuru bangsa satu Indonesia, juga ajang menuangkan pemikiran dan ide dari blogger untuk bangsa ini. Maka pantaslah kemudian jika acara ini didukung oleh US Embassy dan dibuka oleh Menristek tiap tahunnya. Ini tentu saja membanggakan bagi kita blogger. Fakta dan pengakuan bahwa Blogger punya power, punya kekuatan, dan suaranya didengar. Ini juga yang kemudian saya idamkan untuk bisa dilakukan komunitas blog yang baru berdiri di Purbalingga. Bukan mimpi besar, bukan pula bualan, saya percaya jika ada banyak tenaga yang siap dipekerjakan, jika ada otak-otak cerdas untuk membuatkan impian itu dalam sketsa (yang walau kasar) pasti dapat dilaksanakan. Mimpi apa itu? Mimpi bahwa blogger secara komunitas berkontribusi pada Purbalingga.

Harus diakui, Purbalingga menjadi obyek wisata baru di Jawa Tengah yang jadi buah bibir, banyak nya obyek wisata baru yang murah meriah namun memiliki daya tarik luar biasa bagi wisatawan menjadikan kota ini, yang dulu tidak terkenal dan tidak ada apa-apa, sekarang jadi salah satu tujuan wisata, terutama Owabong-nya. Lantas apa yang blogger bisa perbantukan untuk Purbalingga?. Saya bayangkan sederhana saja. Karena kita tentu tidak bisa langsung membantu dalam hal fisik. Kita tentu tidak bisa membantu dalam tata kota yang baik untuk memperlancar arus wisatawan dan pembangunan di Purbalingga dalam tataran turun langsung ke lapangan. Yang blogger bisa lakukan adalah publikasi yang handal dan baik. Read more…

Pekerja Lapangan? Eee PC Seashell for sure

Saya di terima bekerja di badan yang mengurusi suvei pemetaan di Indonesia sebagai CPNS. Dari banyak cerita yang dihadirkan senior yang sudah bekerja, maka junior-junior yang akan lebih sering turun ke lapangan. Berkeliling ke seluruh pelosok Indonesia untuk melakukan kegiatan dan pekerjaan survei dan pemetaan. Walau baru akan mulai awal januari 2010, saya sudah sangat tidak sabar untuk memulai petualangan baru ini.

Dalam dunia survei dan pemetaan yang sudah dilakukan oleh badan tempat saya bekerja nanti, ada beberapa bagian atau jenis pekerjaan yang biasa di cover. Salah satu diantaranya adalah batas wilayah. Dari hasil wawancara kerja yang saya lakukan, kemungkinan saya akan bekerja di bidang ini, yang tentu saja sesuai dengan latar belakang pendidikan saya sebagai lulusan/alumnus Teknik Geodesi UGM. Kegiatan batas wilayah itu sendiri, meliputi pekerjaan survei dan pemetaan batas wilayah antarnegara dan antardaerah. Antarnegara tentunya meliputi delimitasi (penentuan dan penegasan) batas antara Indonesia dengan negara tetangga. Indonesia memiliki sepuluh negara tetangga yang berbatasan laut dan darat, yang masing-masing tentu harus dilakukan delimitasi batasnya. Mungkin isu-isu santer tentang batas wilayah seperti Ambalat, Perbatasan darat Indonesia dengan Malaysia di Pulau Borneo, batas darat dengan Papua New Guinea, perbatasan laut dan darat dengan Timor Leste sering muncul di televisi dan media massa. Disitulah nantinya, ranah pekerjaan yang akan saya kerjakan. Demilitiasi dan pegenasan batas antardaerah, meliputi delimitasi batas antar provinsi, antarkabutapen/kota, antardesa. Dimana kesemuanya memiliki aspek teknis pada delimitasi batasnya, dimana saya akan menjadi ahli teknis sesuai pendidikan saya. Bergerak di bidang batas wilayah juga tidak saja hanya bekerja di lapangan. Tetapi juga harus mengikuti banyak kegiatan pertemuan dan perundingan (khususnya untuk masalah teknis batas wilayah, seperti penggunaan peta, datum geodesi, dan lain-lainnya) dan seminar batas wilayah, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

 (foto salah satu calon bos di kantor Pak Anas Kencana)

Melihat gambaran pekerjaan tersebut, tidak terbantahkan juga, saya tentukan akan membutuhkan alat-alat multimedia/gadget yang akan saya gunakan setiap hari nya terutama ketika harus mobile ke penjuru negeri. Saya tidak bisa membayangkan, misalnya, jikalau nanti saya tidak membawa notebook ketika akan melakukan pekerjaan batas wilayah. Bagaimana saya bisa mendokumentasikan apa-apa yang terjadi, menuliskan catatan harian penting yang akan jadi keyword dan key issue ketika harus menetapkan hasil final, proses data di saat itu juga dan back up datanya. Hal-hal di atas, hanya sebagian kecil dari pekerjaan yang harus dilakukan yang tentu saja membutuhkan peralatan, utamanya notebook untuk bekerja. Ketika harus ke daerah atau mungkin bahkan ke luar negeri untuk mengikuti pertemuan dan seminar misalnya, netbook akan jadi solusi yang sangat bagus ketika dihadapkan harus membaca laptop yang bisa dibawa kemana-mana.

Size is matter. Mungkin ini masalah yang kemudian muncul jika saya harus ke pelosok hutan, harus naik bukit dan ke puncak gunung untuk melakukan pemetaan dan survei lapangan. Jika saya membawa notebook saya saat ini, misalnya, yang ukuran layarnya 14 inch, dan beratnya yang lumayan, tentunya akan merepotkan juga. Disaat harus membawa alat-alat survei yang banyak dan berat, membawa notenbook ukuran 14 inch dengan berat yang dipunya, tentunya akan jadi kendala tersendiri. Itu belum termasuk daya tahan baterei notebook yang cuma dua jam. Read more…